New Book

August 10th, 2007 by evan-lawanto

ZAG

Pengemis dan Seni Marketing

March 7th, 2007 by evan-lawanto

Kita semua mungkin sudah tahu bahwa ada 2 golongan
pengemis. Pertama adalah pengemis yang memang benar2 sudah tidak mampu lagi
untuk mencari uang lagi dengan cara lainnya (cnth: seperti manula, orang cacat,
dsb). Kedua adalah pengemis yang masih bisa mencari kerja yang lain, akan
tetapi dia malas dan lebih memilih menjadi seorang pengemis sebagai profesi
(cnth: orang2 yang tampak masih muda dan kuat)

Pengemis dan seni “self marketing” sangat jelas
hubungannya. Sebagai buktinya, semakin tampak “menderita” seorang pengemis,
maka akan semakin banyak uang yang bisa dia dapat.

Sebagai contoh di daerah Jakarta
sini kebanyakan orang memberikan Rp. 200,- (koin) kepada pengemis “biasa”
(tanpa improvisasi), untuk pengemis yang tampak “sangat menderita” mereka bisa
menerima Rp. 500 sampai dengan Rp. 1000 dari pengendara mobil yang kasihan.

Coba kita bermain hitung2an
dengan hal tersebut:

Untuk pengemis “biasa” (tanpa
improvisasi), biasanya ciri2 mereka menggunakan pakaian yang sangat sederhana
sekali, bisa laki/perempuan semua usia, taruhlah mereka memperoleh Rp. 200,-
dari pengendara dan setiap hari ada minimal 200 pengendara saja yang melewati
“daerah kekuasaan” pengemis itu maka setiap hari penghasilan dia Rp. 40000/hari
kalau kita kalikan 1 bulan (30 hari), maka penghasilan bersih seorang pengemis
“biasa” ini sekitar Rp. 1200000/bulan (mencengangkan bukan??) Hampir sama
dengan gaji pertama fresh graduate yang belum punya pengalaman kerja.

Tunggu dulu…itu baru untuk
pengemis kategori “biasa”…

Sekarang untuk pengemis yang tau
teori “self marketing” hehehe…ciri2nya adalah para pengemis yang bisa melakukan
improvisasi…mereka bisa tampak sangat “menderita” sekali dan tampak sangat
“real” sekali jika kita tidak jeli membedakannya, mereka bisa berdandan seperti
orang kusta yang berborok (dengan make up tentunya), orang buntung kaki
(sangat2 real tentunya dengan make up juga). Taruhkah karena para pengendara
merasa sangat kasihan dengan pengemis impovisasi tersebut, mereka tidak pikir 2
kali untuk memberikan koin Rp. 500 atau bahkan lembaran Rp. 1000 perak.
Taruhlah mereka menerima Rp 500,- dari seorang pengendara dan setiap hari ada
minimal 200 pengendara saja yang melewati “daerah kekuasaan” pengemis itu maka
setiap hari penghasilan dia Rp. 100000/hari kalau kita kalikan 1 bulan (30
hari) maka penghasilan bersih seorang pengemis “kreatif” ini adalah sekitar Rp.
3000000/bulan (sungguh suatu angka yang sangat fantastis untuk seorang
pengemis, hampir sama dengan penghasilan orang berpendidikan tinggi yang kerja di kantoran)

Dari cerita di atas kita bisa
tahu sekarang mengapa jumlah orang yang berprofesi sebagai pengemis semakin
lama…semakin banyak….ternyata bukan sekedar karena mereka mencari uang untuk
sekedar menyambung hidup, tapi banyak dari mereka yang sudah menjadikan
“mengemis” sebagai sebuah profesi yang sangat menjanjikan.

Bagaimana dengan anda? Tertarik?

Best Regards,

Evan Cornelius Lawanto 

Jadilah Pelita

August 28th, 2006 by evan-lawanto

JADILAH PELITA (By: Unknown Author)

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan
pulang dari rumah sahabatnya.

Sang sahabat membekalinya dengan sebuah
lentera pelita.

Orang buta itu terbahak berkata:
"Buat apa saya bawa pelita? Kan sama

saja buat saya! Saya bisa pulang
kok."

Dengan lembut sahabatnya menjawab,
"Ini agar orang lain bisa melihat

kamu, biar mereka tidak menabrakmu."
Akhirnya orang buta itu setuju

untuk membawa pelita tersebut.

Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang
pejalan menabrak si buta.

Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei,
kamu kan punya mata! Beri jalan buat

orang buta dong!" Tanpa berbalas
sapa, mereka pun saling berlalu.

***

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya
menabrak si buta. Kali ini si

buta bertambah marah, "Apa kamu buta?
Tidak bisa lihat ya? Aku bawa

pelita ini supaya kamu bisa lihat!"
Pejalan itu menukas, "Kamu yang

buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah
padam!"

Si buta tertegun?. Menyadari situasi itu,
penabraknya meminta

maaf, "Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’,
saya tidak melihat bahwa Anda

adalah orang buta." Si buta tersipu
menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan

saya juga atas kata-kata kasar saya."
Dengan tulus, si penabrak

membantu menyalakan kembali pelita yang
dibawa si buta. Mereka pun

melanjutkan perjalanan masing-masing.

***

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi
pejalan yang menabrak orang buta

kita. Kali ini, si buta lebih
berhati-hati, dia bertanya dengan

santun, "Maaf, apakah pelita saya
padam?" Penabraknya menjawab, "Lho,

saya justru mau menanyakan hal yang
sama."

Senyap sejenak? secara berbarengan mereka
bertanya, "Apakah Anda orang

buta?" Secara serempak pun mereka
menjawab, "Iya?," sembari meledak

dalam tawa. Mereka pun berupaya saling
membantu menemukan kembali

pelita mereka yang berjatuhan sehabis
bertabrakan.

***

Pada waktu itu juga, seseorang lewat.
Dalam keremangan malam, nyaris

saja ia menubruk kedua orang yang sedang
mencari-cari pelita tersebut.

Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa
mereka adalah orang buta. Timbul

pikiran dalam benak orang ini,
"Rasanya saya perlu membawa pelita juga,

jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih
baik, orang lain juga bisa

ikut melihat jalan mereka."

***

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan.
Membawa pelita berarti

menjalankan kebijaksanaan dalam hidup.
Pelita, sama halnya dengan

kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak
lain dari berbagai aral

rintangan (tabrakan!).

Si buta pertama mewakili mereka yang
terselubungi kegelapan batin,

keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan.
Selalu menunjuk ke arah

orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak
jarinya yang menunjuk ke

arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan
"pulang", ia belajar menjadi

bijak melalui peristiwa demi peristiwa
yang dialaminya. Ia menjadi

lebih rendah hati karena menyadari
kebutaannya dan dengan adanya belas

kasih dari pihak lain. Ia juga belajar
menjadi pemaaf.

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada
umumnya, yang kurang

kesadaran, yang kurang peduli. Kadang,
mereka memilih untuk "membuta"

walaupun mereka bisa melihat.

Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah
bertentangan dengan kita,

yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan
kita, sengaja atau tidak

sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru
terbaik kita. Tak seorang pun

yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita
saling memaklumi dan saling

membantu.

Orang buta kedua mewakili mereka yang
sama-sama gelap batin dengan

kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita
kalau kita bahkan tidak bisa

melihat pelitanya. Orang buta sulit
menuntun orang buta lainnya. Itulah

pentingnya untuk terus belajar agar kita
menjadi makin melek, semakin

bijaksana.

Orang terakhir yang lewat mewakili mereka
yang cukup sadar akan

pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.

Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita
masing-masing? Jika sudah,

apakah nyalanya masih terang, atau bahkan
nyaris padam? JADILAH PELITA,

bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.
Sebuah pepatah berusia 25 abad

mengatakan:

Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah
pelita, dan nyala pelita

pertama tidak akan meredup.

Pelita
kebijaksanaan pun, tak

kan

pernah
habis terbagi.

Touching Story From India

August 17th, 2006 by evan-lawanto

 

Touching Story
From

India

(By: UNKNOWN
AUTHOR)

Istriku
berkata kepada aku yang sedang baca Koran: berapa lama lagi kamu baca koran
itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang utk makan. Aku
taruh Koran & melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu. Tampak
ketakutan, air matanya banjir didepannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu
asam / yogurt (nasi khas

India

/ curd rice).

Sindu
anak yg manis & termasuk pintar dlm usianya yg baru 8 thn. Dia sangat tidak
suka makan curd rice ini. Ibu & istriku msh kuno, mereka percaya sekali
kalau makan curd rice ada "cooling effect". Aku mengambil mangkok dan
berkata Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice
ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah. Aku bisa merasakan
istriku cemberut dibelakang punggungku.

Tangis
Sindu mereda & ia menghapus air mata dgn tangannya & berkata boleh ayah
akan saya makan curd rice ini tidak hanya bbrp sendok tapi semuanya akan saya
habiskan, tapi saya akan minta .. agak ragu2 sejenak akan minta sesuatu sama
ayah bila habis semua nasinya.

Apakah ayah mau berjanji memenuhi
permintaan saya? Aku menjawab oh pasti sayang. Sindu tanya sekali lagi betul
nih ayah? Yah pasti sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan
lembut sbg tanda setuju. Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama,
istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, janji
kata istriku.

Aku sedikit khawatir dan berkata: Sindu
jangan minta komputer atau barang2 lain yg mahal yah, karena ayah saat ini tdk
punya uang. Sindu menjawab: jangan khawatir, Sindu tdk minta barang2 mahal kok.
Kemudian Sindu dgn perlahan2 & kelihatannya sangat menderita, dia bertekad
menghabiskan semua nasi susu asam itu

Dalam hatiku aku marah sama istri &
ibuku yang memaksa Sindu utk makan sesuatu yang tidak disukainya.
Setelah
Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dgn mata penuh harap. Dan semua
perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau
kepalanya digundulin / dibotakin pada hari Minggu.

Istriku
spontan berkata permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin. Juga
ibuku menggerutu jgn terjadi dlm keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV.
Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

Aku
coba membujuk: Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan
sedih melihatmu botak. Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, tidak ada yah, tak
ada keinginan lain kata Sindu.

Aku
coba memohon kepada Sindu: tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti
perasaan kami. Sindu dgn menangis berkata: ayah sudah melihat bgmn menderitanya
saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi
permintaan saya, kenapa ayah sekarang mau menarik / menjilat ludah sendiri?

Bukankah
Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita
terhadap seseorang apapun yang terjadi, seperti Raja Harishchandra (raja India
jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta /
kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.

Sekarang
aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku: janji kita harus ditepati.
Secara serentak istri dan ibuku berkata: apakah aku sudah gila? Tidak jawabku
kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana
menghargai dirinya sendiri. Sindu permintaanmu akan kami penuhi.

Dengan
kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus. Hari
Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke
kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas
lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil
berteriak, Sindu tolong tunggu saya. Yang mengejutkanku ternyata, kepala anak
laki2 itu botak. Aku berpikir mungkin "botak" model jaman sekarang.

Tanpa
memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata: anak anda,
Sindu, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish,
adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia. Wanita itu berhenti sejenak,
menangis tersedu-sedu, bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan
chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi kesekolah takut
diejek / dihina oleh teman2 sekelasnya.

Nah
Minggu lalu Sindu datang kerumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi
ejekan yang mungkin terjadi, hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau
mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan
sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.

Aku berdiri terpaku dan aku menangis. Malaikat
kecilku tolong ajarkanku tentang kasih.

" Dengan
berjanji kita dapat memperoleh sahabat, tetapi dengan menepati janjilah mereka
dapat dipertahankan "

 

 

I Cannot Pray

August 12th, 2006 by evan-lawanto

I CANNOT PRAY         Author:
Unknown (http://heartnsouls.com)

I
CANNOT SAY
OUR; if my religion has no room for others and their needs.

#I
CANNOT SAY
FATHER; if I do not demonstrate this relationship in my daily life.

#I
CANNOT SAY
WHO ART IN HEAVEN; if all my interests and pursuits are in earthly things.

#I
CANNOT SAY
HALLOWED BE THY NAME; if I, who am called by his name am not holy.

#I
CANNOT SAY
THY KINGDOM COME; if I am unwilling to give up my own sovereignty and accept
the righteous reign of God.

#I
CANNOT SAY
THY WILL BE DONE; if I am unwilling or resentful of having it in my life.

#I
CANNOT SAY
ON EARTH AS IT IS IN HEAVEN; if I am not truly ready to give myself to his
service here and now.

#I
CANNOT SAY
GIVE US THIS DAY OUR DAILY BREAD; if I am not expending an honest effort for it
or by ignoring the genuine needs of my fellow man.

#I
CANNOT SAY
FORGIVE US OUR TRESPASSES AS WE FORGIVE THOSE WHO TRESPASS AGAINST US ; if I
continue to harbor a grudge against anyone.

#I
CANNOT SAY
LEAD US NOT INTO TEMPTATION; if I deliberately choose to remain in a situation
where I am likely to be tempted.

#I
CANNOT SAY
DELIVER

US

FROM EVIL; if I am not prepared to fight in the spiritual realm with the weapon
of prayer.

#I
CANNOT SAY
THINE IS THE KINGDOM; if I do not give the King the disciplined obedience of a
loyal subject.

#I
CANNOT SAY
THINE IS THE POWER; if I fear what my neighbors do or say to me.

#I
CANNOT SAY
THINE IS THE GLORY; if I am seeking my own glory first.

#I
CANNOT SAY
FOREVER; if I am anxious about each day’s events.

#I
CANNOT SAY
AMEN; if i don’t honestly say "cost what it may, this is my prayer.".

 

Song Lyric

August 9th, 2006 by evan-lawanto

My Father’s Heart (Singer: Rachael Lampa)

Let everything that breathes praise You,
The earth, the sky, the sea praise You.
Just as nature shows to us Your blessing,
Soon I find my heart confessing.

My love is not my own.
It all belongs to You;
And after all You’ve done, the least that I can do
Is live my life in every part
Only to please my Father’s heart.

Love is all You need to heal us,
Flowing from the heavens Jesus.
And with one voice well sing together;
And this will be our song forever.

My love is not my own.
It all belongs to You;
And after all You’ve done, the least that I can do
Is live my life in every part
Only to please my Father’s heart.

Oh, my love is not my own.
It all belongs to You;
And after all You’ve done, the least that I can do
Is live my life in every part
Only to please my Father’s heart.
Only to please my Father’s heart.


(nb: ada yang pernah dengar lagu ini nggak? lagu ini tuh enak banget….bener2 enak…you must hear this song….)

I cried for my brother six times

August 2nd, 2006 by evan-lawanto

Aku Menangis untuk Adikku Enam Kali  (By: Unknown Author)


Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Untuk hidup,
orangtuaku bertani. Ia harus membajak tanah kering kuning dengan punggung
menghadap ke langit.

Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda usianya dariku.

Di dusun kami, semua anak gadis membawa saputangan. Suatu ketika, untuk membeli
sebuah sapu tangan aku mencuri uang ayahku lima puluh sen. Ayah segera
menyadari uangnya hilang. Akibatnya beliau memaksa adikku dan aku berlutut di
depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" beliau bertanya sedikit berteriak.

Aku diam terpaku, terlalu takut untuk berkata-kata apalagi mengaku.

Karena ayah tidak mendengar ada yang mengaku, Beliau berkata, "Baiklah,
kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"

Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Sebelum tongkat bambu itu
terayun, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang
mencurinya!"

Jadilah tongkat bambu panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi.
Karena marahnya sudah memuncak, ia memukul, memukul, memukul, sampai kehabisan
nafas.

Setelah itu, Beliau masih juga memarahi adikku, "Kamu sudah belajar
mencuri di rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan nanti?
Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku. Meskipun tubuhnya penuh dengan luka
pukul, ia tidak menitikkan air mata setetes pun.

Aku mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya
dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah
terjadi."

Aku masih terus membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk
mengaku.

Bertahun-tahun telah lewat, tapi kejadian tersebut masih terasa seperti baru
kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku.
Waktu itu, adikku berusia delapan tahun. Aku 11  tahun.

Ketika adikku lulus SMP dan diterima masuk ke SMA di kabupaten, aku diterima
masuk ke sebuah universitas provinsi.

Malam itu, ayah sambil menghisap rokok tembakaunya, batang demi batang, aku
mendengarnya berkata kepada ibu, "Kedua anak kita berhasil lulus sekolah.
Aku bangga."

Ibu mengusap setitik air matanya dan menghela nafas, "Apa gunanya
keberhasilan itu? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai sekolah keduanya
sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, aku
tidak mau melanjutkan sekolah lagi, aku telah cukup membaca banyak buku."

Ayah mengayunkan tangannya memukul wajah adikku. "Mengapa kau mempunyai
jiwa yang begitu lemah? Saya akan menyekolahkan kalian berdua, meskipun saya
mesti mengemis di jalanan atau harus meminjam uang."

Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang sedikit
membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan
sekolahnya, kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan
ini. Aku telah memutuskan untuk tidak akan meneruskan ke universitas."

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah
dengan hanya membawa beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah
mengering. Diam-diam ia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan
secarik kertas bertulisan di atas bantalku. "Kak, masuk ke universitas
tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimmu uang,"
demikian isi pesan yang ditulis di kertas itu.

Aku memegang kertas dan menangis bercucuran air mata sampai suaraku hilang.
Tahun itu, adikku berusia 17 tahun dan aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku
hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku
akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas.

Suatu hari, ketika aku sedang belajar di kamarku teman sekamarku masuk dan
memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana."

Ada apa seorang penduduk dusun mencariku?

Aku berjalan keluar dan melihat adikku di kejauhan. Seluruh badannya kotor
tertutup debu semen dan pasir. Aku bertanya, "Mengapa kamu tidak bilang
pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"

Dia menjawab sambil tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang
akan mereka pikir jika mereka tahu aku adalah adikmu? Apa mereka tidak akan
menertawakanmu?"

Aku merasa terharu, air mataku tak terbendung lagi. Aku membersihkan debu-debu
yang menempel di wajah dan tubuh adikku, dan sambil tesedak aku berkata,
"Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga!
Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia
memakaikan jepitan itu dikepalaku, dan terus menjelaskan, "Aku melihat
semua gadis kota memakainya. Jadi aku pikir Kakak juga harus memiliki
satu."

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam
pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah
diganti, dan seluruh rumah kelihatan bersih. Setelah pacarku pulang, aku menari
seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, Ibu tidak perlu menghabiskan
begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"

Tetapi kata ibuku sambil tersenyum, "Adikmulah yang pulang awal untuk
membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka di tangannya? Ia terluka
ketika memasang kaca jendela baru itu."

Aku masuk ke dalam kamar adikku. Melihat tubuh dan mukanya yang kurus, seratus
jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada luka tersayat kaca
dan membalutnya.

"Sakit?" aku bertanya.

"Tidak, tidak sakit. Kakak tahu, ketika aku bekerja di lokasi konstruksi,
batu-batu berjatuhan di kakiku setiap waktu. Rasa sakit itu tidak
menghentikanku bekerja dan…" Ia berhenti karena aku membalikkan tubuhku
memunggunginya. Air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23.
Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Berkali-kali suamiku dan aku
mengundang orangtuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka
tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak
tahu harus mengerjakan apa.

Adikku juga tidak setuju. "Kak, jagalah mertuamu saja. Aku akan menjaga
ibu dan ayah di sini."

Suamiku direktur pabrik. Kami ingin adikku mendapatkan pekerjaan sebagai
manajer pada departemen pemeliharaan di pabrik itu. Tetapi adikku menolak
tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku harus masuk rumah sakit karena tersengat listrik ketika
memperbaiki kabel. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada
kakinya, aku menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini.
Lihat kamu sekarang, lukanya begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar
kami?"

Dengan wajah serius, ia membela keputusannya, "Pikirkanlah, kakak ipar
baru saja jadi direktur, dan aku hampir tidak berpendidikan. Jika aku menjadi
manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan beredar?"

Mata suamiku berkaca-kaca.

"Tapi. kamu. kurang. pendidikan. juga. karena .aku!" kataku
terbata-bata karena sambil menangis tersedu-sedu.

"Mengapa kita membicarakan masa lalu?" tanya adikku sambil
menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun kami.
Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya,
"Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?"

Tanpa berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan jawaban itu dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan
tidak dapat kuingat. "Ketika kami bersekolah di SD yang berada di dusun
yang berbeda, setiap hari kakakku dan aku berjalan selama dua jam untuk pergi
ke sekolah dan pulang ke rumah."

"Suatu hari di musim yang dingin ketika pulang sekolah, aku kehilangan
satu dari dua sarung tanganku. Kakakku memberikan kepunyaannya satu. Ia hanya
memakai satu saja. Ketika kami tiba di rumah, tangannya gemetaran karena cuaca
yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu,
aku bersumpah, selama aku masih hidup, aku akan menjaga kakakku dan baik
kepadanya."

Suara tepuk tangan memenuhi ruangan resepsi. Semua tamu memalingkan
perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling
aku berterima kasih adalah adikku."

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan, air mata
bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

(Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six times")

Sebuah Boneka

July 30th, 2006 by evan-lawanto

*Boneka (By: Unknown Author)

NOTE:
THIS IS AN ACTUAL INCIDENT

*Catatan:
ini adalah kisah nyata

Hari
terakhir sebelum

Natal

,
aku terburu-buru ke
supermarket
untuk
membeli hadiah2 yang semula tidak direncanakan

untuk
dibeli.

Ketika
melihat orang banyak, aku mulai mengeluh: "Ini

akan
makan

waktu
selamanya, sedang masih banyak tempat yang harus

kutuju"

Natal

benar2 semakin
menjengkelkan dari tahun ke

tahun.
Kuharap

aku
bisa berbaring, tidur, dan hanya terjaga

setelahnya"
Walau
demikian, aku tetap berjalan menuju bagian

mainan,
dan di

sana

aku mulai
mengutuki harga-harga, berpikir apakah

sesudahnya
semua
anak akan sungguh-sungguh bermain dengan mainan

yang
mahal.

Saat
sedang mencari-cari, aku melihat seorang anak

laki2
berusia

sekitar
5 tahun, memeluk sebuah boneka. Ia terus

membelai
rambut

boneka
itu dan terlihat sangat sedih. Aku

bertanya-tanya
untuk

siapa
boneka itu. Anak itu mendekati seorang perempuan

tua
di

dekatnya:
‘Nenek, apakah engkau yakin aku tidak punya

cukup
uang?’

Perempuan
tua itu menjawab: ‘Kau tahu bahwa kau tidak

punya
cukup

uang
untuk membeli boneka ini, sayang.’ Kemudian

Perempuan
itu

meminta
anak itu menunggu di

sana

sekitar 5 menit
sementara
ia

berkeliling
ke tempat lain. Perempuan itu pergi dengan

cepat.
Anak

laki2
itu masih menggenggam boneka itu di tangannya.

Akhirnya,
aku mendekati anak itu dan bertanya kepada

siapa
dia

ingin
memberikan boneka itu.’Ini adalah boneka yang

paling
disayangi
adik perempuanku dan dia sangat

menginginkannya
pada

Natal

ini. Ia yakin
Santa Claus akan membawa boneka

ini
untuknya’

Aku
menjawab mungkin Santa Claus akan membawa boneka

untuk
adiknya,

dan
supaya ia jangan khawatir. Tapi anak laki2 itu

menjawab
dengan

sedih
‘Tidak, Santa Claus tidak dapat membawa boneka

ini
ke tempat

dimana
adikku berada saat ini. Aku harus memberikan

boneka
ini

kepada
mama sehingga mama dapat memberikan kepadanya

ketika
mama

sampai
di

sana

.’ Mata
anak laki2 itu begitu sedih
ketika
mengatakan

ini
‘Adikku sudah pergi kepada Tuhan. Papa berkata

bahwa
mama juga

segera
pergi menghadap Tuhan, maka kukira mama dapat

membawa
boneka

ini
untuk diberikan kepada adikku.’ Jantungku seakan

terhenti.

Anak
laki2 itu memandangku dan berkata: ‘Aku minta

papa
untuk

memberitahu
mama agar tidak pergi dulu. Aku meminta

papa
untuk

menunggu
hingga aku pulang dari supermarket.’ Kemudian

ia
menunjukkan
fotonya yang sedang tertawa. Kamudian ia

berkata:
‘Aku

juga
ingin mama membawa foto ini supaya tidak lupa

padaku.
Aku

cinta
mama dan kuharap ia tidak meninggalkan aku tapi

papa
berkata

mama
harus pergi bersama adikku.’
Kemudian ia
memandang dengan
sedih ke boneka itu dengan diam.

Aku meraih dompetku dengan cepat dan
mengambil

beberapa uang
dan berkata kepada anak itu. ‘Bagaimana jika
kita

periksa lagi,
kalau2 uangmu cukup?’ ‘Ok’ katanya. ‘Kuharap
punyaku

cukup.’
Kutambahkan uangku pada uangnya tanpa
setahunya dan

kami mulai
menghitung. Ternyata cukup untuk boneka itu,
dan malah

sisa. Anak
itu berseru: ‘Terima Kasih Tuhan karena
memberiku

cukup uang’
Kemudian ia memandangku dan menambahkan:
‘Kemarin

sebelum tidur aku
memohon kepada Tuhan untuk memastikan bahwa
aku

memiliki cukup
uang untuk membeli boneka ini sehingga mama
bisa

memberikannya
kepada adikku. DIA mendengarkan aku. Aku juga
ingin

uangku cukup
untuk membeli mawar putih buat mama, tapi aku
tidak

berani memohon
terlalu banyak kepada Tuhan. Tapi DIA
memberiku cukup

untuk
membeli

boneka
dan mawar putih.’ ‘Kau tahu, mamaku suka mawar

putih’

Beberapa
menit kemudian, neneknya kembali dan aku

berlalu
dengan

keretaku.
Kuselesaikan belanjaku dengan suasana hati

yang
sepenuhnya
berbeda dari saat memulainya. Aku tidak

dapat
menghapus

anak
itu dari pikiranku. Kemudian aku ingat artikel di

koran
lokal

2
hari yang lalu, yang menyatakan seorang pria

mengendarai
truk

dalam
kondisi mabuk dan menghantam sebuah mobil yang

berisi
seorang

wanita
muda dan seorang gadis kecil. Gadis kecil itu

meninggal
seketika,
dan ibunya dalam kondisi kritis. Keluarganya

harus
memutuskan
apakah harus mencabut alat penunjang

kehidupan,
karena

wanita
itu tidak akan mampu keluar dari kondisi koma.

Apakah
mereka

keluarga
dari anak laki2 ini?

2
hari setelah pertemuan dengan anak kecil itu, kubaca

di
koran

bahwa
wanita muda itu meninggal dunia. Aku tak dapat

menghentikan
diriku
dan pergi membeli seikat mawar putih dan

kemudian
pergi ke

rumah
duka tempat jenasah dari wanita muda itu

diperlihatkan
kepada

orang2
untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum

penguburan.
Wanita
itu di

sana

,
dalam peti matinya, menggenggam
setangkai
mawar

putih
yang cantik dengan foto anak laki2 dan boneka

itu
ditempatkan

di
atas dadanya.
Kutinggalkan tempat itu dengan
menangis, merasa
hidupku telah berubah selamanya. Cinta yang
dimiliki

anak laki2 itu
kepada ibu dan adiknya, sampai saat ini masih
sulit

untuk
dibayangkan. Dalam sekejap mata, seorang pria
mabuk

mengambil
semuanya
dari anak itu.

***********

Am I Fireman Yet?

July 30th, 2006 by evan-lawanto

AM I A FIREMAN YET? (By:
Unknown Author)

In Phoenix, Arizona,
a 26-year-old mother stared down at her 6 year old son, who was dying of
terminal leukaemia. Although her heart was filled with sadness, she also had a
strong feeling of determination.

Like any parent, she
wanted her son to grow up & fulfill all his dreams. Now that was no longer
possible.

The leukaemia would
see to that. But she still wanted her son’s dream to come true.

She took her son’s
hand and asked, "Billy, did you ever think about

what you wanted to be
once you grew up? Did you ever dream and wish what you would do with your
life?"

Mommy, "I always
wanted to be a fireman when I grew up."

Mom smiled back and
said, "Let’s see if we can make your wish come true."

Later that day she
went to her local fire department in

Phoenix

,

Arizona

, where she met Fireman Bob,
who had a heart as big as

Phoenix

.
She explained her son’s final wish and asked if it might be possible to give
her 6 year old son a ride around the block on a fire engine.

Fireman Bob said,
"Look, we can do better than that. If you’ll have

your son ready at
seven o’clock Wednesday morning, we’ll make him an honorary fireman for the
whole day. He can come down to the fire station, eat with us, go out on all the
fire calls, the whole nine yards! And if you’ll give us his sizes, we’ll get a
real fire uniform

for him, with a real
fire hat - not a toy — one-with the emblem of the Phoenix Fire Department on
it, a yellow slicker like we wear and rubber boots. They’re all manufactured
right here in

Phoenix

,
so we can get them fast."

Three days later
Fireman Bob picked up Billy, dressed him in his uniform and escorted him from
his hospital bed to the waiting hook and ladder truck. Billy got to sit on the
back of the truck and help steer it back to the fire station. He was in heaven.
There were three fire calls in

Phoenix

that day and Billy got to go out on all three calls. He rode in the different
fire engines, the paramedic’s van, and even the fire chief’s car. He was also
videotaped for the local news program. Having his dream come true, with all the
Love and attention that was lavished upon him, so deeply touched Billy that he
lived three months longer than any doctor thought possible.

One night all of his
vital signs began to drop dramatically and the head nurse, who believed in the
hospice concept - that no one should die alone, began to call the family
members to the hospital. Then she remembered the day Billy had spent as a
fireman, so she called the Fire Chief and asked if it would be possible to send
a fireman in uniform to the hospital to be with Billy as he made is transition.
The chief replied, "We can do better than that.

We’ll be there in five
minutes. Will you please do me a favour? When you hear the sirens screaming and
see the lights flashing, will you announce over the PA system, that there is
not

a fire? It’s the
department coming to see one of its finest members one more time. And will you
open the window to his room?

About five minutes
later a hook and ladder truck arrived at the hospital and extended its ladder
up to Billy’s third floor open window——–16 fire-fighters climbed up the
ladder into Billy’s room. With his mother’s permission, they hugged him and
held him and told him how much they LOVED him.

With his dying breath,
Billy looked up at the fire chief and said,

"Chief, am I
really a fireman now?" "Billy, you are, and the Head Chief, Jesus, is
holding your hand," the chief said.

With those words,
Billy smiled and said, "I know, He’s been holding my hand all day, and the
angels have been singing."

He closed his eyes one
last time.