Sebuah Boneka
Sunday, July 30th, 2006*Boneka (By: Unknown Author)
NOTE:
THIS IS AN ACTUAL INCIDENT
*Catatan:
ini adalah kisah nyata
Hari Natal , Natal benar2 semakin sana aku mulai sana sekitar 5 menit
terakhir sebelum
aku terburu-buru ke
supermarket
untuk
membeli hadiah2 yang semula tidak direncanakan
untuk
dibeli.
Ketika
melihat orang banyak, aku mulai mengeluh: "Ini
akan
makan
waktu
selamanya, sedang masih banyak tempat yang harus
kutuju"
menjengkelkan dari tahun ke
tahun.
Kuharap
aku
bisa berbaring, tidur, dan hanya terjaga
setelahnya"
Walau
demikian, aku tetap berjalan menuju bagian
mainan,
dan di
mengutuki harga-harga, berpikir apakah
sesudahnya
semua
anak akan sungguh-sungguh bermain dengan mainan
yang
mahal.
sedang mencari-cari, aku melihat seorang anak
laki2
berusia
sekitar
5 tahun, memeluk sebuah boneka. Ia terus
membelai
rambut
boneka
itu dan terlihat sangat sedih. Aku
bertanya-tanya
untuk
siapa
boneka itu. Anak itu mendekati seorang perempuan
tua
di
dekatnya:
‘Nenek, apakah engkau yakin aku tidak punya
cukup
uang?’
Perempuan
tua itu menjawab: ‘Kau tahu bahwa kau tidak
punya
cukup
uang
untuk membeli boneka ini, sayang.’ Kemudian
Perempuan
itu
meminta
anak itu menunggu di
sementara
ia
berkeliling
ke tempat lain. Perempuan itu pergi dengan
cepat.
Anak
laki2
itu masih menggenggam boneka itu di tangannya.
Akhirnya,
aku mendekati anak itu dan bertanya kepada
siapa
dia
ingin
memberikan boneka itu.’Ini adalah boneka yang
paling
disayangi
adik perempuanku dan dia sangat
menginginkannya
pada
Natal
ini. Ia yakin sana .’ Mata
Santa Claus akan membawa boneka
ini
untuknya’
Aku
menjawab mungkin Santa Claus akan membawa boneka
untuk
adiknya,
dan
supaya ia jangan khawatir. Tapi anak laki2 itu
menjawab
dengan
sedih
‘Tidak, Santa Claus tidak dapat membawa boneka
ini
ke tempat
dimana
adikku berada saat ini. Aku harus memberikan
boneka
ini
kepada
mama sehingga mama dapat memberikan kepadanya
ketika
mama
sampai
di
anak laki2 itu begitu sedih
ketika
mengatakan
ini
‘Adikku sudah pergi kepada Tuhan. Papa berkata
bahwa
mama juga
segera
pergi menghadap Tuhan, maka kukira mama dapat
membawa
boneka
ini
untuk diberikan kepada adikku.’ Jantungku seakan
terhenti.
Anak
laki2 itu memandangku dan berkata: ‘Aku minta
papa
untuk
memberitahu
mama agar tidak pergi dulu. Aku meminta
papa
untuk
menunggu
hingga aku pulang dari supermarket.’ Kemudian
ia
menunjukkan
fotonya yang sedang tertawa. Kamudian ia
berkata:
‘Aku
juga
ingin mama membawa foto ini supaya tidak lupa
padaku.
Aku
cinta
mama dan kuharap ia tidak meninggalkan aku tapi
papa
berkata
mama
harus pergi bersama adikku.’ Kemudian ia
memandang dengan
sedih ke boneka itu dengan diam.
Aku meraih dompetku dengan cepat dan
mengambil
beberapa uang
dan berkata kepada anak itu. ‘Bagaimana jika
kita
periksa lagi,
kalau2 uangmu cukup?’ ‘Ok’ katanya. ‘Kuharap
punyaku
cukup.’
Kutambahkan uangku pada uangnya tanpa
setahunya dan
kami mulai
menghitung. Ternyata cukup untuk boneka itu,
dan malah
sisa. Anak
itu berseru: ‘Terima Kasih Tuhan karena
memberiku
cukup uang’
Kemudian ia memandangku dan menambahkan:
‘Kemarin
sebelum tidur aku
memohon kepada Tuhan untuk memastikan bahwa
aku
memiliki cukup
uang untuk membeli boneka ini sehingga mama
bisa
memberikannya
kepada adikku. DIA mendengarkan aku. Aku juga
ingin
uangku cukup
untuk membeli mawar putih buat mama, tapi aku
tidak
berani memohon
terlalu banyak kepada Tuhan. Tapi DIA
memberiku cukup
untuk
membeli
boneka
dan mawar putih.’ ‘Kau tahu, mamaku suka mawar
putih’
Beberapa
menit kemudian, neneknya kembali dan aku
berlalu
dengan
keretaku.
Kuselesaikan belanjaku dengan suasana hati
yang
sepenuhnya
berbeda dari saat memulainya. Aku tidak
dapat
menghapus
anak
itu dari pikiranku. Kemudian aku ingat artikel di
koran
lokal
2
hari yang lalu, yang menyatakan seorang pria
mengendarai
truk
dalam
kondisi mabuk dan menghantam sebuah mobil yang
berisi
seorang
wanita
muda dan seorang gadis kecil. Gadis kecil itu
meninggal
seketika,
dan ibunya dalam kondisi kritis. Keluarganya
harus
memutuskan
apakah harus mencabut alat penunjang
kehidupan,
karena
wanita
itu tidak akan mampu keluar dari kondisi koma.
Apakah
mereka
keluarga
dari anak laki2 ini?
2 sana ,
hari setelah pertemuan dengan anak kecil itu, kubaca
di
koran
bahwa
wanita muda itu meninggal dunia. Aku tak dapat
menghentikan
diriku
dan pergi membeli seikat mawar putih dan
kemudian
pergi ke
rumah
duka tempat jenasah dari wanita muda itu
diperlihatkan
kepada
orang2
untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum
penguburan.
Wanita
itu di
dalam peti matinya, menggenggam
setangkai
mawar
putih
yang cantik dengan foto anak laki2 dan boneka
itu
ditempatkan
di
atas dadanya. Kutinggalkan tempat itu dengan
menangis, merasa
hidupku telah berubah selamanya. Cinta yang
dimiliki
anak laki2 itu
kepada ibu dan adiknya, sampai saat ini masih
sulit
untuk
dibayangkan. Dalam sekejap mata, seorang pria
mabuk
mengambil
semuanya
dari anak itu.
***********