Archive for August, 2006

Jadilah Pelita

Monday, August 28th, 2006

JADILAH PELITA (By: Unknown Author)

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan
pulang dari rumah sahabatnya.

Sang sahabat membekalinya dengan sebuah
lentera pelita.

Orang buta itu terbahak berkata:
"Buat apa saya bawa pelita? Kan sama

saja buat saya! Saya bisa pulang
kok."

Dengan lembut sahabatnya menjawab,
"Ini agar orang lain bisa melihat

kamu, biar mereka tidak menabrakmu."
Akhirnya orang buta itu setuju

untuk membawa pelita tersebut.

Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang
pejalan menabrak si buta.

Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei,
kamu kan punya mata! Beri jalan buat

orang buta dong!" Tanpa berbalas
sapa, mereka pun saling berlalu.

***

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya
menabrak si buta. Kali ini si

buta bertambah marah, "Apa kamu buta?
Tidak bisa lihat ya? Aku bawa

pelita ini supaya kamu bisa lihat!"
Pejalan itu menukas, "Kamu yang

buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah
padam!"

Si buta tertegun?. Menyadari situasi itu,
penabraknya meminta

maaf, "Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’,
saya tidak melihat bahwa Anda

adalah orang buta." Si buta tersipu
menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan

saya juga atas kata-kata kasar saya."
Dengan tulus, si penabrak

membantu menyalakan kembali pelita yang
dibawa si buta. Mereka pun

melanjutkan perjalanan masing-masing.

***

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi
pejalan yang menabrak orang buta

kita. Kali ini, si buta lebih
berhati-hati, dia bertanya dengan

santun, "Maaf, apakah pelita saya
padam?" Penabraknya menjawab, "Lho,

saya justru mau menanyakan hal yang
sama."

Senyap sejenak? secara berbarengan mereka
bertanya, "Apakah Anda orang

buta?" Secara serempak pun mereka
menjawab, "Iya?," sembari meledak

dalam tawa. Mereka pun berupaya saling
membantu menemukan kembali

pelita mereka yang berjatuhan sehabis
bertabrakan.

***

Pada waktu itu juga, seseorang lewat.
Dalam keremangan malam, nyaris

saja ia menubruk kedua orang yang sedang
mencari-cari pelita tersebut.

Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa
mereka adalah orang buta. Timbul

pikiran dalam benak orang ini,
"Rasanya saya perlu membawa pelita juga,

jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih
baik, orang lain juga bisa

ikut melihat jalan mereka."

***

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan.
Membawa pelita berarti

menjalankan kebijaksanaan dalam hidup.
Pelita, sama halnya dengan

kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak
lain dari berbagai aral

rintangan (tabrakan!).

Si buta pertama mewakili mereka yang
terselubungi kegelapan batin,

keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan.
Selalu menunjuk ke arah

orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak
jarinya yang menunjuk ke

arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan
"pulang", ia belajar menjadi

bijak melalui peristiwa demi peristiwa
yang dialaminya. Ia menjadi

lebih rendah hati karena menyadari
kebutaannya dan dengan adanya belas

kasih dari pihak lain. Ia juga belajar
menjadi pemaaf.

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada
umumnya, yang kurang

kesadaran, yang kurang peduli. Kadang,
mereka memilih untuk "membuta"

walaupun mereka bisa melihat.

Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah
bertentangan dengan kita,

yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan
kita, sengaja atau tidak

sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru
terbaik kita. Tak seorang pun

yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita
saling memaklumi dan saling

membantu.

Orang buta kedua mewakili mereka yang
sama-sama gelap batin dengan

kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita
kalau kita bahkan tidak bisa

melihat pelitanya. Orang buta sulit
menuntun orang buta lainnya. Itulah

pentingnya untuk terus belajar agar kita
menjadi makin melek, semakin

bijaksana.

Orang terakhir yang lewat mewakili mereka
yang cukup sadar akan

pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.

Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita
masing-masing? Jika sudah,

apakah nyalanya masih terang, atau bahkan
nyaris padam? JADILAH PELITA,

bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.
Sebuah pepatah berusia 25 abad

mengatakan:

Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah
pelita, dan nyala pelita

pertama tidak akan meredup.

Pelita
kebijaksanaan pun, tak

kan

pernah
habis terbagi.

Touching Story From India

Thursday, August 17th, 2006

 

Touching Story
From

India

(By: UNKNOWN
AUTHOR)

Istriku
berkata kepada aku yang sedang baca Koran: berapa lama lagi kamu baca koran
itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang utk makan. Aku
taruh Koran & melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu. Tampak
ketakutan, air matanya banjir didepannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu
asam / yogurt (nasi khas

India

/ curd rice).

Sindu
anak yg manis & termasuk pintar dlm usianya yg baru 8 thn. Dia sangat tidak
suka makan curd rice ini. Ibu & istriku msh kuno, mereka percaya sekali
kalau makan curd rice ada "cooling effect". Aku mengambil mangkok dan
berkata Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice
ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah. Aku bisa merasakan
istriku cemberut dibelakang punggungku.

Tangis
Sindu mereda & ia menghapus air mata dgn tangannya & berkata boleh ayah
akan saya makan curd rice ini tidak hanya bbrp sendok tapi semuanya akan saya
habiskan, tapi saya akan minta .. agak ragu2 sejenak akan minta sesuatu sama
ayah bila habis semua nasinya.

Apakah ayah mau berjanji memenuhi
permintaan saya? Aku menjawab oh pasti sayang. Sindu tanya sekali lagi betul
nih ayah? Yah pasti sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan
lembut sbg tanda setuju. Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama,
istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, janji
kata istriku.

Aku sedikit khawatir dan berkata: Sindu
jangan minta komputer atau barang2 lain yg mahal yah, karena ayah saat ini tdk
punya uang. Sindu menjawab: jangan khawatir, Sindu tdk minta barang2 mahal kok.
Kemudian Sindu dgn perlahan2 & kelihatannya sangat menderita, dia bertekad
menghabiskan semua nasi susu asam itu

Dalam hatiku aku marah sama istri &
ibuku yang memaksa Sindu utk makan sesuatu yang tidak disukainya.
Setelah
Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dgn mata penuh harap. Dan semua
perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau
kepalanya digundulin / dibotakin pada hari Minggu.

Istriku
spontan berkata permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin. Juga
ibuku menggerutu jgn terjadi dlm keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV.
Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

Aku
coba membujuk: Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan
sedih melihatmu botak. Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, tidak ada yah, tak
ada keinginan lain kata Sindu.

Aku
coba memohon kepada Sindu: tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti
perasaan kami. Sindu dgn menangis berkata: ayah sudah melihat bgmn menderitanya
saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi
permintaan saya, kenapa ayah sekarang mau menarik / menjilat ludah sendiri?

Bukankah
Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita
terhadap seseorang apapun yang terjadi, seperti Raja Harishchandra (raja India
jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta /
kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.

Sekarang
aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku: janji kita harus ditepati.
Secara serentak istri dan ibuku berkata: apakah aku sudah gila? Tidak jawabku
kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana
menghargai dirinya sendiri. Sindu permintaanmu akan kami penuhi.

Dengan
kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus. Hari
Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke
kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas
lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil
berteriak, Sindu tolong tunggu saya. Yang mengejutkanku ternyata, kepala anak
laki2 itu botak. Aku berpikir mungkin "botak" model jaman sekarang.

Tanpa
memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata: anak anda,
Sindu, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish,
adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia. Wanita itu berhenti sejenak,
menangis tersedu-sedu, bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan
chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi kesekolah takut
diejek / dihina oleh teman2 sekelasnya.

Nah
Minggu lalu Sindu datang kerumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi
ejekan yang mungkin terjadi, hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau
mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan
sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.

Aku berdiri terpaku dan aku menangis. Malaikat
kecilku tolong ajarkanku tentang kasih.

" Dengan
berjanji kita dapat memperoleh sahabat, tetapi dengan menepati janjilah mereka
dapat dipertahankan "

 

 

I Cannot Pray

Saturday, August 12th, 2006

I CANNOT PRAY         Author:
Unknown (http://heartnsouls.com)

I
CANNOT SAY
OUR; if my religion has no room for others and their needs.

#I
CANNOT SAY
FATHER; if I do not demonstrate this relationship in my daily life.

#I
CANNOT SAY
WHO ART IN HEAVEN; if all my interests and pursuits are in earthly things.

#I
CANNOT SAY
HALLOWED BE THY NAME; if I, who am called by his name am not holy.

#I
CANNOT SAY
THY KINGDOM COME; if I am unwilling to give up my own sovereignty and accept
the righteous reign of God.

#I
CANNOT SAY
THY WILL BE DONE; if I am unwilling or resentful of having it in my life.

#I
CANNOT SAY
ON EARTH AS IT IS IN HEAVEN; if I am not truly ready to give myself to his
service here and now.

#I
CANNOT SAY
GIVE US THIS DAY OUR DAILY BREAD; if I am not expending an honest effort for it
or by ignoring the genuine needs of my fellow man.

#I
CANNOT SAY
FORGIVE US OUR TRESPASSES AS WE FORGIVE THOSE WHO TRESPASS AGAINST US ; if I
continue to harbor a grudge against anyone.

#I
CANNOT SAY
LEAD US NOT INTO TEMPTATION; if I deliberately choose to remain in a situation
where I am likely to be tempted.

#I
CANNOT SAY
DELIVER

US

FROM EVIL; if I am not prepared to fight in the spiritual realm with the weapon
of prayer.

#I
CANNOT SAY
THINE IS THE KINGDOM; if I do not give the King the disciplined obedience of a
loyal subject.

#I
CANNOT SAY
THINE IS THE POWER; if I fear what my neighbors do or say to me.

#I
CANNOT SAY
THINE IS THE GLORY; if I am seeking my own glory first.

#I
CANNOT SAY
FOREVER; if I am anxious about each day’s events.

#I
CANNOT SAY
AMEN; if i don’t honestly say "cost what it may, this is my prayer.".

 

Song Lyric

Wednesday, August 9th, 2006

My Father’s Heart (Singer: Rachael Lampa)

Let everything that breathes praise You,
The earth, the sky, the sea praise You.
Just as nature shows to us Your blessing,
Soon I find my heart confessing.

My love is not my own.
It all belongs to You;
And after all You’ve done, the least that I can do
Is live my life in every part
Only to please my Father’s heart.

Love is all You need to heal us,
Flowing from the heavens Jesus.
And with one voice well sing together;
And this will be our song forever.

My love is not my own.
It all belongs to You;
And after all You’ve done, the least that I can do
Is live my life in every part
Only to please my Father’s heart.

Oh, my love is not my own.
It all belongs to You;
And after all You’ve done, the least that I can do
Is live my life in every part
Only to please my Father’s heart.
Only to please my Father’s heart.


(nb: ada yang pernah dengar lagu ini nggak? lagu ini tuh enak banget….bener2 enak…you must hear this song….)

I cried for my brother six times

Wednesday, August 2nd, 2006

Aku Menangis untuk Adikku Enam Kali  (By: Unknown Author)


Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Untuk hidup,
orangtuaku bertani. Ia harus membajak tanah kering kuning dengan punggung
menghadap ke langit.

Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda usianya dariku.

Di dusun kami, semua anak gadis membawa saputangan. Suatu ketika, untuk membeli
sebuah sapu tangan aku mencuri uang ayahku lima puluh sen. Ayah segera
menyadari uangnya hilang. Akibatnya beliau memaksa adikku dan aku berlutut di
depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" beliau bertanya sedikit berteriak.

Aku diam terpaku, terlalu takut untuk berkata-kata apalagi mengaku.

Karena ayah tidak mendengar ada yang mengaku, Beliau berkata, "Baiklah,
kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"

Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Sebelum tongkat bambu itu
terayun, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang
mencurinya!"

Jadilah tongkat bambu panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi.
Karena marahnya sudah memuncak, ia memukul, memukul, memukul, sampai kehabisan
nafas.

Setelah itu, Beliau masih juga memarahi adikku, "Kamu sudah belajar
mencuri di rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan nanti?
Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku. Meskipun tubuhnya penuh dengan luka
pukul, ia tidak menitikkan air mata setetes pun.

Aku mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya
dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah
terjadi."

Aku masih terus membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk
mengaku.

Bertahun-tahun telah lewat, tapi kejadian tersebut masih terasa seperti baru
kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku.
Waktu itu, adikku berusia delapan tahun. Aku 11  tahun.

Ketika adikku lulus SMP dan diterima masuk ke SMA di kabupaten, aku diterima
masuk ke sebuah universitas provinsi.

Malam itu, ayah sambil menghisap rokok tembakaunya, batang demi batang, aku
mendengarnya berkata kepada ibu, "Kedua anak kita berhasil lulus sekolah.
Aku bangga."

Ibu mengusap setitik air matanya dan menghela nafas, "Apa gunanya
keberhasilan itu? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai sekolah keduanya
sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, aku
tidak mau melanjutkan sekolah lagi, aku telah cukup membaca banyak buku."

Ayah mengayunkan tangannya memukul wajah adikku. "Mengapa kau mempunyai
jiwa yang begitu lemah? Saya akan menyekolahkan kalian berdua, meskipun saya
mesti mengemis di jalanan atau harus meminjam uang."

Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang sedikit
membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan
sekolahnya, kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan
ini. Aku telah memutuskan untuk tidak akan meneruskan ke universitas."

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah
dengan hanya membawa beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah
mengering. Diam-diam ia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan
secarik kertas bertulisan di atas bantalku. "Kak, masuk ke universitas
tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimmu uang,"
demikian isi pesan yang ditulis di kertas itu.

Aku memegang kertas dan menangis bercucuran air mata sampai suaraku hilang.
Tahun itu, adikku berusia 17 tahun dan aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku
hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku
akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas.

Suatu hari, ketika aku sedang belajar di kamarku teman sekamarku masuk dan
memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana."

Ada apa seorang penduduk dusun mencariku?

Aku berjalan keluar dan melihat adikku di kejauhan. Seluruh badannya kotor
tertutup debu semen dan pasir. Aku bertanya, "Mengapa kamu tidak bilang
pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"

Dia menjawab sambil tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang
akan mereka pikir jika mereka tahu aku adalah adikmu? Apa mereka tidak akan
menertawakanmu?"

Aku merasa terharu, air mataku tak terbendung lagi. Aku membersihkan debu-debu
yang menempel di wajah dan tubuh adikku, dan sambil tesedak aku berkata,
"Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga!
Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia
memakaikan jepitan itu dikepalaku, dan terus menjelaskan, "Aku melihat
semua gadis kota memakainya. Jadi aku pikir Kakak juga harus memiliki
satu."

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam
pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah
diganti, dan seluruh rumah kelihatan bersih. Setelah pacarku pulang, aku menari
seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, Ibu tidak perlu menghabiskan
begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"

Tetapi kata ibuku sambil tersenyum, "Adikmulah yang pulang awal untuk
membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka di tangannya? Ia terluka
ketika memasang kaca jendela baru itu."

Aku masuk ke dalam kamar adikku. Melihat tubuh dan mukanya yang kurus, seratus
jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada luka tersayat kaca
dan membalutnya.

"Sakit?" aku bertanya.

"Tidak, tidak sakit. Kakak tahu, ketika aku bekerja di lokasi konstruksi,
batu-batu berjatuhan di kakiku setiap waktu. Rasa sakit itu tidak
menghentikanku bekerja dan…" Ia berhenti karena aku membalikkan tubuhku
memunggunginya. Air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23.
Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Berkali-kali suamiku dan aku
mengundang orangtuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka
tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak
tahu harus mengerjakan apa.

Adikku juga tidak setuju. "Kak, jagalah mertuamu saja. Aku akan menjaga
ibu dan ayah di sini."

Suamiku direktur pabrik. Kami ingin adikku mendapatkan pekerjaan sebagai
manajer pada departemen pemeliharaan di pabrik itu. Tetapi adikku menolak
tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku harus masuk rumah sakit karena tersengat listrik ketika
memperbaiki kabel. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada
kakinya, aku menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini.
Lihat kamu sekarang, lukanya begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar
kami?"

Dengan wajah serius, ia membela keputusannya, "Pikirkanlah, kakak ipar
baru saja jadi direktur, dan aku hampir tidak berpendidikan. Jika aku menjadi
manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan beredar?"

Mata suamiku berkaca-kaca.

"Tapi. kamu. kurang. pendidikan. juga. karena .aku!" kataku
terbata-bata karena sambil menangis tersedu-sedu.

"Mengapa kita membicarakan masa lalu?" tanya adikku sambil
menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun kami.
Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya,
"Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?"

Tanpa berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan jawaban itu dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan
tidak dapat kuingat. "Ketika kami bersekolah di SD yang berada di dusun
yang berbeda, setiap hari kakakku dan aku berjalan selama dua jam untuk pergi
ke sekolah dan pulang ke rumah."

"Suatu hari di musim yang dingin ketika pulang sekolah, aku kehilangan
satu dari dua sarung tanganku. Kakakku memberikan kepunyaannya satu. Ia hanya
memakai satu saja. Ketika kami tiba di rumah, tangannya gemetaran karena cuaca
yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu,
aku bersumpah, selama aku masih hidup, aku akan menjaga kakakku dan baik
kepadanya."

Suara tepuk tangan memenuhi ruangan resepsi. Semua tamu memalingkan
perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling
aku berterima kasih adalah adikku."

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan, air mata
bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

(Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six times")