Pengemis dan Seni Marketing
Wednesday, March 7th, 2007Kita semua mungkin sudah tahu bahwa ada 2 golongan
pengemis. Pertama adalah pengemis yang memang benar2 sudah tidak mampu lagi
untuk mencari uang lagi dengan cara lainnya (cnth: seperti manula, orang cacat,
dsb). Kedua adalah pengemis yang masih bisa mencari kerja yang lain, akan
tetapi dia malas dan lebih memilih menjadi seorang pengemis sebagai profesi
(cnth: orang2 yang tampak masih muda dan kuat)
Pengemis dan seni “self marketing” sangat jelas
hubungannya. Sebagai buktinya, semakin tampak “menderita” seorang pengemis,
maka akan semakin banyak uang yang bisa dia dapat.
Sebagai contoh di daerah Jakarta
sini kebanyakan orang memberikan Rp. 200,- (koin) kepada pengemis “biasa”
(tanpa improvisasi), untuk pengemis yang tampak “sangat menderita” mereka bisa
menerima Rp. 500 sampai dengan Rp. 1000 dari pengendara mobil yang kasihan.
Coba kita bermain hitung2an
dengan hal tersebut:
Untuk pengemis “biasa” (tanpa
improvisasi), biasanya ciri2 mereka menggunakan pakaian yang sangat sederhana
sekali, bisa laki/perempuan semua usia, taruhlah mereka memperoleh Rp. 200,-
dari pengendara dan setiap hari ada minimal 200 pengendara saja yang melewati
“daerah kekuasaan” pengemis itu maka setiap hari penghasilan dia Rp. 40000/hari
kalau kita kalikan 1 bulan (30 hari), maka penghasilan bersih seorang pengemis
“biasa” ini sekitar Rp. 1200000/bulan (mencengangkan bukan??) Hampir sama
dengan gaji pertama fresh graduate yang belum punya pengalaman kerja.
Tunggu dulu…itu baru untuk
pengemis kategori “biasa”…
Sekarang untuk pengemis yang tau
teori “self marketing” hehehe…ciri2nya adalah para pengemis yang bisa melakukan
improvisasi…mereka bisa tampak sangat “menderita” sekali dan tampak sangat
“real” sekali jika kita tidak jeli membedakannya, mereka bisa berdandan seperti
orang kusta yang berborok (dengan make up tentunya), orang buntung kaki
(sangat2 real tentunya dengan make up juga). Taruhkah karena para pengendara
merasa sangat kasihan dengan pengemis impovisasi tersebut, mereka tidak pikir 2
kali untuk memberikan koin Rp. 500 atau bahkan lembaran Rp. 1000 perak.
Taruhlah mereka menerima Rp 500,- dari seorang pengendara dan setiap hari ada
minimal 200 pengendara saja yang melewati “daerah kekuasaan” pengemis itu maka
setiap hari penghasilan dia Rp. 100000/hari kalau kita kalikan 1 bulan (30
hari) maka penghasilan bersih seorang pengemis “kreatif” ini adalah sekitar Rp.
3000000/bulan (sungguh suatu angka yang sangat fantastis untuk seorang
pengemis, hampir sama dengan penghasilan orang berpendidikan tinggi yang kerja di kantoran)
Dari cerita di atas kita bisa
tahu sekarang mengapa jumlah orang yang berprofesi sebagai pengemis semakin
lama…semakin banyak….ternyata bukan sekedar karena mereka mencari uang untuk
sekedar menyambung hidup, tapi banyak dari mereka yang sudah menjadikan
“mengemis” sebagai sebuah profesi yang sangat menjanjikan.
Bagaimana dengan anda? Tertarik?
Best Regards,
Evan Cornelius Lawanto